Sejarah Singkat “Mading-Ku”

Mading-Ku ini bermula dari sebuah ekstrakurikuler “Komputer dan Kelas Menulis” di Sekolah Dasar Temuireng 1. Sebuah SD berstatus Negeri yang berada di Desa Temuireng, Kelurahan Pengkoljagong, Kecamatan Jati, Kab Blora—Jawa Tengah.

Penggabungan antara ektrakurikuler “Komputer dan Kelas Menulis” tersebut maksudnya adalah dimana hasil tulisan siswa digunakan sebagai bahan latihan mengetik. “Sekali merengkuh dayung , dua tiga pulau terlampaui.” Artinya; sekali melakukan pekerjaan, beberapa maksud tercapai. Jadi, selain melatih ketrampilan mengetik menggunakan komputer, siswa juga sekaligus belajar menulis.

Mading-Ku berdiri pada 2 September 2010. Nama Mading-Ku diambil dari kata Majalah Dinding yang artinya adalah majalah yang tidak dirangkai, tetapi berupa lembaran yang ditempelkan pada dinding (papan tulis). Sedangkan Majalah sendiri artinya adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui pembaca, dan menurut waktu penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan, tengah bulanan, mingguan, dsb. Dan menurut pengkhususan, isinya dibedakan atas majalah berita, wanita, remaja, olahraga, sastra, serta ilmu pengetahuan tertentu (http://bahtera.org/kateglo/). Kata ”Ku” artinya Aku. Dan “Aku” di sini maksudnya bahwa isi dari Mading-Ku ini menyesuaikan dengan keinginan penulis/siswa. Intinya, Tak ada batasan mengenai apa yang hendak ditulis siswa. Hal ini tak lain adalah untuk memancing kreatifitas siswa dalam menulis. Jadi, singkatnya Mading-Ku adalah majalah dinding siswa yang isinya bersifat bebas.

Tujuan dibuatnya majalah dinding ini adalah; Pertama, merangsang aktivitas baca-tulis siswa. Kedua, dengan adanya majalah dinding ini diharapkan bisa mewadahi siswa dalam menuangkan bakat menulisnya. Ketiga, menjadi salah satu mediator pembelajaran bahasa demi peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Keempat, sebagai langkah awal pengenalan siswa terhadap proses kerja sebuah media cetak kaitannya menulis dan sastra. Kelima, mendokumentasikan karya khususnya tulisan dari siswa-siswi SD Temuireng 1.

Pramudya Ananta Tour dalam Khotbah dari Jalan Hidup mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Setidaknya sepenggal kata penulis dari Blora ini bisa menjadi pondasi Mading-Ku untuk tegak berdiri.

Adanya aktivitas permadingan ini bisa berjalan tentunya tidak terlepas dari peran aktif guru. Peran aktif para pendidik tersebut sangat diharapkan berupa motivasi. Salah satunya dengan memberi keteladanan dalam membaca dan menulis. Jika para guru tidak mampu memberikan motivasi dan keteladan, pelbagai upaya yang dilakukan tidak akan banyak berhasil. Hal yang paling krusial tentu adalah keteladanan, bagaimana para guru meneladankan rutinitas membaca dan kebiasaan menulis pada para siswa akan menentukan perkembangan baca-tulis siswa kemudian hari.

Terciptanya Mading-Ku ini sebenarnya hanya langkah kecil bagi seorang pendidik—seperti saya ini—untuk memancing kecintaan siswa-siswi SD Temuireng 1 kaitannya dengan dunia kepenulisan. Namun, saya tetap menaruh keyakinan bahwa Mading-Ku akan mampu memercikan bekal dasar kepenulisan bagi siswa-siswi SD Temuireng 1, khususnya. Dan semoga, Mading-Ku bisa menjadi lembar sejarah baru dunia pendidikan, khusunya dunia kepenulisan.

-Subiharto-
Kandang Pertapan, 2 September 2010

Suka dan Bagikan!

Log in | Designed by Gabfire themes